Seputar Kesalahan Makmum dalam Pelaksanaan Khutbah Jum'at

Ikhwati fillah yang dirahmati Allah. Berikut ini kami sajikan tulisan ringkas seputar kesalahan makmum dalam pelaksanaan khutbah Jum’at, yang kami sadur dari Kitab Hadyun Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam fii Khuthbatil Jumu’ah karya Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir. Beberapa kesalahan makmum ketika khutbah Jum’at yang belum diketahui, terlupa, atau tidak disadari akan kesalahan tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, makmum datang terlambat atau sengaja datang terakhir ketika khatib sudah naik mimbar. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pada waktu-waktu pergi ke masjid, di dalamnya ada keterangan:

فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ المَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ

“Apabila imam sudah keluar -untuk berkhutbah-, para malaikat berkumpul untuk mendengarkan khutbah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim) [1] Maksudnya adalah mereka para malaikat tidak mencatat kelebihan pahala bagi siapa yang datang terlambat -Pent.

Maka sudah selayaknya para makmum untuk hadir di masjid sebelum khatib naik mimbar, agar mendapatkan keutamaan berupa dicatat kebaikannya oleh malaikat. Sedangkan ketika khatib sudah naik mimbar, maka malaikat akan menutup buku catatannya dan ikut mendengarkan khutbah Jum’at.

Kedua, jama’ah mengangkat tangannya ketika imam/khatib berdo’a. Syaikh Shalih Fauzan hafizahullah telah memberikan jawaban untuk pertanyaan yang diajukan oleh penanya dala program siaran “Nuurun ‘alad Darbi” yang mana mengangkat tangan pada waktu khutbah Jum’at dalam berdoa adalah bid’ah.

Ketiga, jama’ah mengamini doa imam dengan suara yang keras secara berbarengan (berjama’ah), dan ini merupakan suatu penyimpangan yang jelas sekali dari sunnah karena tidak dikenal cara seperti ini pada masa Salaf (sahabat dan tabi’in).

Keempat, sebagian dari jama’ah Jum’at berdiri untuk shalat dua rakaat pada waktu imam mengakhiri khutbah yang pertama.

Kelima, sebagian jama’ah memainkan tasbih di tangan mereka atau benda-benda lainnya selagi imam berkhutbah. Perbuatan ini termasuk perbuatan sia-sia sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ مَسَّ الحَصَا فَقَدْ لَغَا، وَمَنْ لَغَا فَلَا جُمُعَةَ لَهُ

“Barangsiapa memain-mainkan kerikil atau biji-bijian (tasbih) maka dia telah sia-sia. Dan barangsiapa telah sia-sia, maka tidak terhitung Jum’at baginya.” [2] Hal ini berlaku juga untuk perkara-perkara yang serupa di zaman ini, seperti memainkan karpet, jam, kacamata, dan semisalnya yang dapat memecahkan konsentrasi dalam mendengarkan dan memahami khutbah Jum’at.

Keenam, sebagian jama’ah ada yang berdiri di luar masjid sampai pelaksanaan khutbah Jum’at selesai. Sebagian lagi ada yang menyengaja membuat shaf di luar masjid, padahal di dalam masjid masih ada keluangan tempat.

Ketujuh, sebagian jama’ah sengaja tidak menghadapkan wajah mereka kepada khatib. Ini merupakan penyimpangan dari sunnah yang telah diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Abdulllah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا اسْتَوَى عَلَى المِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوْهِنَا

“Apabila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berada di atas mimbar, kami semua menghadapkan wajah kami kepada beliau”. (HR. at-Tirmizi 1/157, 2/383) [3]

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Disunahkan bagi makmum menghadap khatib apabila khatib berkhutbah”. [4]

Kedelapan, duduk dengan memeluk kedua lutut ketika khatib sedang berkutbah. Dari Abdullah bin ‘Amr al-Ash beliau berkata:

عَنِ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ النَّبِيَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الحَبْوَةِ يَوْمَ الجُمْعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

“Dari Shal bin Muadz dari bapaknya bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari habwah (duduk memeluk kedua lutut) pada hari Jum’at sedangkan khatib sedang berkhutbah”. (Hadits Hasan Riwayat Abu Dawud dan Tirmizi)

Demikianlah kesalahan-kesalahan seputar makmum ketika khatib sedang berkhutbah. Pentingnya mengetahui hal tersebut agar kita dapat menghindarinya, sehingga kita mendapatkan pahala Shalat Jum’at secara sempurna. Wa billahi taufiq.

————————————–

Disadur dari Kitab Hadyun Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam fii Khutbatil Jumu’ah karya Dr. Anis bin Ahmad bin Thahir. Edisi Indonesia dengan Judul Petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam Khutbah Jum’at, Penerbit Pustaka Imam Syafi’i.

Bekasi, 3 Jumadil Ula 1434 H / 15 Maret 2013
Abu Unais Abdurrohman

Footnote:

[1] Shahih al-Bukhari Kitab al-Jumu’ah bab Fadhlul Jumu’ah no.881, Shahih Muslim Kitab al-Jumu’ah bab ath-Thiib was Siwaak Yaumal Jumu’ah 2/582 no.850
[2] Hadits sampai kalimat ومن مسّ الحصا فقد لغا diriwayatkan oleh Muslim, Kitab al-Jumu’ah bab Fadhlu man Istama’a wa Anshata fil khutbah no.2/588 no.857/27, Ibnu Majah no.1090, Abu Dawud no.1050 dan at-Tirmizi no.498
[3] Jaami’ at-Tirmidzi bab fii Istiqbaalil Imaam idzaa Khatbaha 2/383 no.509 dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah no.2080
[4] Al Mughni 3/172

Posted on March 15, 2013, in Akhlaq dan Adab, Fadhilah, Fiqih, Ibadah, Ilmu, Manhaj, Muamalah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: