Catatan Ringan Seorang Guru (Sebuah Bentuk Keprihatinan)

Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh. Alhamdulillah, shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita yang mulia, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah senantiasa menetapkan kita di jalan istiqomah dalam memegang manhaj yang mulia ini, yaitu Manhaj Salafus Shalih.

Pengunjung Blog Abu Unais yang kami hormati. Salah satu kenikmatan yang tidak bisa dipungkiri, bahwa saat ini telah banyak berdiri lembaga-lembaga pendidikan bermanhaj salaf, terutama di tanah air kita ini. Namun sayang, berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan bermanhaj salaf ini, tidak diiringi dengan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai dan kualitas manajemen yang baik. Bahkan yang dijumpai, lembaga-lembaga ini cenderung berjalan sendiri-sendiri.

Saya pribadi pernah mempunyai pengalaman menjadi pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Salaf dan kebetulan istri juga mempunyai pengalaman serupa. Yang kami jumpai, permasalahan lebih sering terjadi karena kualitas menajemen pendidikan yang kurang bagus, sehingga dalam menganalisa sebuah permasalahan sampai mencari solusi permasalahan cenderung mengambil langkah yang kurang tepat. Permasalahan lain yang dijumpai adalah kurang selektifnya atau bahkan bisa dikatakan “asal-asalan” dalam merekrut tenaga pendidik. Ada juga yang semangat dalam mendirikan sekolah-sekolah dengan background salaf, tetapi tidak mempertimbangkan atau tidak mempersiapkan terlebih dahulu SDM yang memadai. Alhasil, sekolah sudah berdiri tetapi pengajarnya masih kekurangan. Alhasil pula, satu guru bisa memegang lebih dari lima mapel sekaligus, padahal sebenarnya guru tersebut tidak begitu menguasai materi, sehingga hasilnya pun kurang maksimal.

Jika kita lihat, guru-guru yang mengajar di Lembaga-Lembaga Pendidikan Salaf tidak terlepas dari beberapa latar belakang. Pertama, guru-guru dengan background (BG) lulusan pondok pesantren atau kampus Islam di Timur Tengah dan Indonesia. Kedua, guru dengan BG lulusan universitas jurusan umum (non pendidikan). Ketiga, guru dengan BG lulusan universitas jurusan pendidikan. Kemudian, untuk mendirikan dan mengelola sebuah Lembaga Pendidikan dengan BG Salaf tidak hanya semangat dan niat ikhlas saja yang dibutuhkan. Setidaknya ada tiga modal yang diperlukan: Ilmu Agama yang mumpuni, ilmu seputar dunia pendidikan, dan manajemen pendidikan yang baik. Ketiga modal tersebut tertuang dalam dua unsur penting, yaitu SDM (unsur pendidik) dengan jumlah yang memadai dan manajemen pengelolaan (unsur manajemen) dengan kualitas yang baik. Dan idealnya, seorang pendidikan mengusai Ilmu Agama dan Ilmu Pendidikan sekaligus, sedangkan kepala sekolah dan perangkat-perangkatnya (selain menguasai Ilmu Agama dan Ilmu Pendidikan) idealnya menguasai ilmu manajemen pendidikan yang baik.

Sayangnya, masih banyak lembaga-lembaga pendidikan salaf yang kurang memperhatikan hal-hal penting di atas. Bahkan cenderungnya masing-masing jalan dengan cara sendiri-sendiri. Pernah terbesit dalam pikiran, untuk mendirikan sebuah institute yang mendidik para calon guru dan staf yang akan terjun di Lembaga Pendidikan Salaf. Masa pendidikan hanya cukup satu tahun, atau lebih singkat. Mungkin lebih tepat kalau hanya disebut sebagai matrikulasi. Calon guru dengan BG lulusan pesantren atau Universitas Islam di Timteng dan Indonesia menerima materi kuliah berupa Ilmu Pendidikan dan Ilmu Manajemen Pendidikan. Calon guru dengan BG universitas umum jurusan non pendidikan menerima materi kuliah berupa Ilmu Agama, Ilmu Pendidikan dan Ilmu Manajemen Pendidikan. Calon guru dengan BG universitas umum jurusan pendidikan menerima materi kuliah berupa Ilmu Agama. Sedangkan calon staf/kepala sekolah lebih ditekankan pada pembekalan Ilmu Manajemen Pendidikannya, selain Ilmu Agama dan Ilmu Pendidikan. Begitu calon guru dan staf lulus dari pendidikan ini, maka berhak mendapatkan sertifikat sebagai guru yang berkualitas. Program pembinaan ini bisa diwujudkan dengan Pendidikan Sebelum Diterjunkan, atau bisa seiring dengan berjalannya proses pendidikan (bagi guru yang sudah terlanjur terjun dalam dunia pendidikan) melalui pelatihan-pelatihan atau seminar.

Pernah mendengar cerita dari seorang ikhwah, dia menceritakan bahwa setelah bertahun-tahun menjadi pengajar di sebuah Lembaga Pendidikan Salaf, ia putuskan untuk keluar dan mencari kerja di tempat lain. Ditanya alasannya, ia mengatakan bahwa gaji yang ia terima tidak layak atau tidak sebanding dengan pengorbanan. Di satu sisi, lembaga selalu menuntut keikhlasan dalam bekerja, namun di sisi lain kita juga tidak bisa menutup mata bahwa kita juga memiliki keluarga yang menjadi tanggungan kita. Saya sendiri pernah melihat dimana sebuah pondok pesantren dengan jumlah santri yang banyak mencapai ribuan, dengan biaya pendidikan juga tidak murah, namun di satu sisi gaji guru masih dikatakan di bawah layak. Maka tidak heran jika banyak guru yang berkualitas malah lari tidak mau mengajar di Lembaga Pendidikan Salaf. Padahal, permasalahan sebenarnya hanyalah pada manajemen pengelolaan yang kurang baik.

Sekian, ini hanyalah catatan ringan dari seorang guru junior. Apa yang saya katakan bisa salah dan bisa benar. Silahkan jika akan dikoreksi. Akhirnya, hanya kepada Allah-lah kita memohon taufiqNya. Wassalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
———
Rawalumbu (Bekasi), 9 Shafar 1434 H / 23 Desember 2012 M
Ditulis oleh: Abu Unais Abdurrohman
– Guru di Bimbel Bintang Pelajar.
– Alumnus Pendidikan Biologi, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
– Alumnus Fiqih dan Ushul Fiqih, Al-Madinah International University (MEDIU) Malaysia.

Posted on December 23, 2012, in Ilmu, Mahasiswa, Pendidikan, Pendidikan Anak and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Assalaamu’alaykum,

    Afwan Ust mau ikut nimbrung. Menurut Ust, bagaimana dg kebutuhan guru wanita di jenjang dasar, menengah maupun tinggi? Jika memang dibutuhkan, lalu bagaimana cara mencukupi kebutuhan tsb sementara seorang wanita dituntut utk tinggal di rumah? Apakah di sini nanti perlu diterapkan kaidah maslahat-madharat? Ataukah semuanya memang lebih baik diambil alih oleh guru laki2?

    Jazakumullohukhoiron atas jawabannya. Barokallohufiik…

    • Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh

      Untuk menjawab pertanyaan saudari, berikut ini kami nukilkan tulisan dari Syaikh Muhammad Jamil Zainu berjudul “Ketika Wanita Bekerja di Luar Rumah” yang diambil dari Majalah Akhwat (vol. 8/1432/2010):

      ——–
      Musuh musuh Islam telah berusaha dengan berbagai macam cara dan sarana yang tak terhitung demi merusak perilaku wanita muslimah agar mereka melepaskan diri dari agama, akhlaq dan keiffahannya.

      Ketika seorang wanita pergi bekerja, sebagian besar biasanya akan mengenakan pakaian-pakaian yang menarik menggunakan model dan tata rambut yang beraneka macam serta hiasan-hiasan lainnya yang akan selalu berubah dan berganti. Inilah yang mendorongnya menggunakan gaji setiap bulan untuk bisa tampil cantik dan menarik. Padahal perlu diketahui bahwa pakaian dan aneka macam hiasan tersebut diimport dari negara-negara asing yang mendukung dan memberikan sokongan finansial kepada gerakan zionis untuk menghancurkan kaum muslimin. Terjebaklah kaum muslimin dalam kerugian materil, akhlaq dan sikap hidup yang meniru niru gaya orang kafir. Sungguh benar sabda rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam:

      “Tidak ada fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum laki laki daripada wanita.” (Mutafaqun ‘alayh)

      Akibat Wanita Bekerja di Luar Rumah

      Bekerjanya wanita diluar rumah akan mengakibatkan dampak yang buruk, tidak hanya bagi dirinya sendiri namun juga bagi keluarga dan masyarakat. Diantara dampak buruk tersebut adalah:

      (1) Wanita yang bekerja di luar rumah akan bercampur baur dengan laki-laki pada setiap harinya, baik di tempat tempat pertemuan maupun di lingkungan kerjanya. Dengan bekerjanya wanita diluar rumah, dia akan dihadapkan dengan beban beban yang berat, kepayahan, bahkan bahaya yang mungkin terjadi karena berdesak-desakan ketika bekerja. Kemudian hilanglah darinya sebagian sifat kewanitaannya. Pudarlah keindahan yang menghiasinya dan lenyaplah rasa malunya. Padahal itu semua termasuk perkara yang paling penting yang akan mencerminkan seorang wanita dalam pandangan laki laki.

      (2) Apabila seorang wanita bekerja di luar rumah, maka pekerjaannya akan menyibukkan dirinya dari kewajiban kewajiban mengurus rumah dan dari tanggungjawabnya mendidik anak-anak. Sampai-sampai seorang suami terkadang menyesalkan sikap penyia-nyiaan istrinya terhadap kewajiban kewajiban dirumah. Maka keadaan ini memaksa dirinya untuk menceraikan istrinya dan berpisah darinya atau dia menikah lagi dengan wanita lain.

      (3) Terkadang pekerjaan seorang wanita di luar rumah menjadi sebab hancurnya rumah tangga dan tercerai berainya anak anaknya. Hal ini terjadi akibat adanya hubungan (gelap) dengan laki-laki lain ditempat kerjanya. Maka ketahuilah bahwa itu semua dikarenakan godaan setan yang ia berjalan di tubuh anak Adam bersama aliran darah. Terlebih lagi apabila wanita tersebut keluar rumah dalam keadaan berhias.

      (4) Sesungguhnya dengan bekerjanya wanita di luar rumah akan menyebabkan terpisahnya ia dari anak-anaknya. Sehingga mereka tidak merasakan kasih sayang seorang ibu dan tidak mendapatkan pendidikan darinya. Bahkan terkadang perkara ini menjadi sebab penyimpangan dan penyelewengan anak anak hingga mendorong mereka melakukan tindakan kejahatan. Dampak dari itu semua adalah sebagaimana telah tampak jelas di masyarakat.

      (5) Diantara dampak negatif lainnya bahwa tugas tugas/pekerjaan pekerjaan di luar rumah bisa saja membawa akibat kematian bagi si anak. Buktinya adalah si karyawati yang sudah tiba saatnya masuk kerja padahal anaknya sedang sakit ini. Anaknya memanggil manggil, “Ibu.. ibu.. aku sama siapa di rumah?” Namun sang ibu terdesak untuk mengerjakan tugasnya sehingga meninggalkan anaknya yang berkata lirih, “Ibu..ibu..” Ketika kembali ke rumah, ibu itu menemukan anaknya telah membujur kaku meninggal dunia. Ia pun sedih dan menangisi anaknya serta menyesali perbuatannya saat nasi telah menjadi bubur. Di dalam hatinya ia berkata, “Apa guna pekerjaan ini? Bahkan apa guna harta yang menyebabkan anakku mati? sedang anak adalah milik yang paling berharga?”

      Pengangguran Akibat Wanita Bekerja

      (1) Di negara barat kaum wanita telah memasuki seluruh lapangan pekerjaan. Sehingga angka pengangguran di negara negara itu meningkat secara cepat. Hal ini menyebabkan para pakar ekonom kesulitan menemukan solusi mengurangi jumlah pengangguran atau paling tidak menghentikan angka pertumbuhannya. Sebab utama fenomena pengangguran pada negara negara itu adalah masuknya kaum wanita ke seluruh lapangan pekerjaan tanpa terkecuali. Mereka ikut serta dengan kalangan pria di lembaga lembaga pemerintahan, perusahaan perusahaan, pabrik pabrik industri dan profesi profesi lainnya.

      (2) Krisis ekonomi yang melanda negara negara barat menyebabkan mereka harus menonaktifkan sejumlah besar karyawan dan pekerja. Dan yang paling pertama di non-aktifkan adalah kalangan pria karena para pemilik perusahaan, pabrik, toko dan sebagainya akan lebih memilih untuk memakai tenaga kerja wanita daripada tenaga kerja pria. Hal ini disebabkan karena wanita memiliki daya tarik, keluesan dan daya pikat untuk menarik pelanggan dan klien.

      (3) Dan sangat disayangkan, negara negara Islam juga mengikuti jejak negara negara barat tersebut. Sehingga kaum wanita pun masuk ke lembaga lembaga pemerintahan, bahkan badan badan pengacara. Banyak juga yang masuk ke perusahaan perusahaan dan yayasan yayasan khusus atau umum, bahkan juga laboratorium-laboratorium penelitian. Hal ini melahirkan fenomena pengangguran di kalangan pria sebagai pihak yang memikul tanggung jawab memberikan nafkah keluarga. Rusaklah akhlaq dan bertebaranlah perbuatan perbuatan keji di tempat tempaat terjadinya ikhtilath diantara wanita dan pria. Dan memburuklah hubungan antara suami dan istrinya akibat ikhtilat ini.

      Syarat Syarat Wanita Bekerja di Luar Rumah

      Sesungguhnya Islam yang memuliakan wanita dengan sebaik baiknya membolehkannya untuk melakukan pekerjaan mulia di dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Hal ini agar ia menjadi unsur penting yang berkiprah aktif dalam membangun keluarga, umat, dan negara muslim. Dengan demikian Islam tidak secara mutlak melarang wanita untuk bekerja. Akan tetapi Islam memberikan ketentuan jenis pekerjaan yang sesuai dengan tabiat yang telah Allah ‘azza wa jalla jadikan untuknya. Dan Islam telah menetapkan syarat syarat yang akan menjaga kehormatannya. Syarat syarat itu adalah :

      (1) Hendaknya di dalam kerjanya tidak terjadi ikhtilath antara pria dan wanita. karena ikhtilat ini akan membahayakan pria dan wanita itu sendiri.
      (2) Hendaknya pekerjaan tersebut disertai persetujuan suami, ayah, saudara laki laki, atau orang yang bertanggung jawab terhadap urusannya.
      (3) Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabiat/sifatnya dan tidak sampai membuatnya begitu kelelahan dan kesulitan.endaknya pekerjaan tersebut tidak menyita sebagian besar waktunya. Sehingga ia dapat menyisihkan waktu untuk menunaikan kewajiban kewajiban rumah tangga, melayani suami dan memperhatikan pendidikan anak anak.
      (4) Hendaknya ia tidak berhias ketika keluar rumah. Juga tidak menggunakan bedak wajah dan parfum. Akan tetapi ia mengenakan jilbab hitam yang pangjang dan lebar. Dan ia menutup wajah saat berhadapan dengan laki laki non mahrom.
      (5) Hendaknya seorang wanita bekerja di medan medan yang akan memberi manfaat bagi masyarakat seperti :

      – lapangan pendidikan dan pengajaran, agar anak anak perempuan dapat diajar leh guru wanita dan tidak oleh guru pria.
      – lapangan pengobatan dan keperawatan, agar kaum wanita diobati atau dirawat juga oleh wanita, tidak oleh pria.
      – pembuatan busana wanita, agar para wanitalah yang membuatkan busana untuk kalangan mereka. Sehingga mereka tidak perlu pergi kepada pembuat busana dari kalangan pria.

      Selesai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: