Ada Apa dengan Hari Ini?

Hari bertepatan dengan tanggal 12 Desember 2012. Banyak orang menyebut dengan nomor cantik, karena memang jika disusun akan membentuk suatu urutan 12/12/12. Maka tak heran jika banyak yang mengaitkan berbagai hal dengan tanggal ini. Sebagian orang mengaitkan dengan keberuntungan, namun ada juga yang mengaitkannya dengan kesialan. Lantas bagaimana syari’at memandang hal ini?

Hukum Tathayyur
Menisbatkan keberuntungan atau kesialan dengan tanggal, hari, tempat, atau binatang tertentu adalah Tathayyur. Dan syari’at memasukkan Tathayyur bagian dari perbuatan syirik. Tathayyur adalah kebiasaan Arab Jahiliyyah, dimana ketika mereka hendak bepergian mereka menerbangkan burung, kemudian mereka melihat arah terbangnya burung tersebut. Jika ke kanan maka mereka meneruskan perjalanan, namun jika ke kiri maka mereka mengurungkan perjalanan. Dari sinilah istilah Tathayyur diambil, yaitu burung dalam Bahasa Arab adalah طائر.

Tathayyur termasuk perbuatan syirik. Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3528). Dengan bertathayyur berarti seseorang telah menyandarkan ketergantungan (tawakal) kepada selain Allah. Padahal tawakal adalah termasuk salah satu jenis ibadah yang hanya berhak dipersembahkan kepada Allah semata. Allah ta’ala berfirman: “Kepada Allah-lah kalian bertawakal jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

Tathayyur tidak semata-mata karena melihat burung saja, seperti kebiasaan Arab Jahiliyyah. Tetapi melihat dan menisbatkan kesialan kepada segala sesuatu selain Allah adalah termasuk Tathayyur. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Tathayyur adalah menganggap sial atas apa yang dilihat, didengar, atau yang diketahui. Seperti yang dilihat yaitu, melihat sesuatu yang menakutkan. Yang didengar seperti mendengar burung gagak, dan yang diketahui seperti mengetahui tanggal, angka atau bilangan. Tathayyur menafikan (meniadakan) tauhid dari dua segi: Pertama, orang yang bertathayyur tidak memiliki rasa tawakal kepada Allah azza wa jalla dan senantiasa bergantung kepada selain Allah. Kedua, ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya dan merupakan sesuatu yang termasuk takhayyul dan keragu-raguan.” (Al-Qaulul Mufiid ‘Alaa Kitaabit Tauhid I/559-560).

Dan sesuai dengan kenyataan, bahwa hampir di setiap masa dan di setiap tempat, masyarakatnya memiliki keyakinan ini meskipun bentuknya berbeda-beda. Misalnya di Jawa ada keyakinan, jika seseorang kejatuhan cicak berarti akan tertimpa musibah dalam waktu dekat. Dan jika rumahnya kemasukan kupu-kupu dengan warna indah, berarti akan ada tamu istimewa. Juga keyakinan pada bulan-bulan tertentu dapat mendatangkan bahaya jika melakukan hajatan di dalamnya, dan lain sebagainya. Semua ini tak lain adalah termasuk Tathayyur.

Lantas Bagaimana Seharusnya?
Sebagai seorang muslim yang bertauhid kepada Allah, hendaknya meyakini bahwa hanyalah Allah yang mampu menimpakan musibah kepada hambaNya. Tidak boleh kita menisbatkan musibah dan juga keberuntungan kepada makhluk. Allah ta’ala berfirman: “Tidaklah ada musibah kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, Ia akan memberi hidayah di hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At-Taghabun: 11)

Juga dalam sebuah hadits disebutkan bahwa diantara syarat masuk surga tanpa hisab adalah meninggalkan Tathayyur. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah, tidak meminta untuk di-kay (pengobatan dengan menempelkan besi panas di kulit), tidak pula bertathayyur, dan hanya kepada Allah-lah mereka bertawakal.” (HR. Bukhari no. 5705 dan muslim no. 220). Maka hendaknya kita menjauhi perbuatan tathayyur jika menginginkan masuk surga tanpa hisab.

Dengan demikian, maka meyakini hari ini (12 Desember 2012) sebagai hari yang mendatangkan keberuntungan ataupun kesialan merupakan bentuk Tathayyur, dan hendaknya kita menjauhi perbuatan tersebut. Akhirnya, hanya kepada Allah-lah kita memohon taufiqNya.

————-
Rawalumbu (Bekasi), 28 Muharram 1434 H
Ditulis Oleh Abu Unais Abdurrohman

Posted on December 12, 2012, in Aqidah, Ibadah, Ilmu, Manhaj, Tauhid and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: