Memulai Ramadhan dan Berhari Raya Sesuai Sunnah Nabi

Salah satu hal yang ramai diperbincangkan banyak orang ketika memulai bulan Ramadhan adalah penentuan Ramadhan dengan metode hisab ataukah hilal? Karena permasalahan ini, banyak kaum muslimin yang bingung dan terpecah belah dalam memulai awal Ramadhan dan juga penentuan Hari Raya Ied. Lantas, bagaimanakah seharusnya kita bersikap?

Kaidah Umum yang Harus Dipahami
Sebelum membahas mengenai penentuan awal Ramadhan, apakah dengan hisab ataukah hilal, sebaiknya kita pahami terlebih dahulu kaidah umum berikut ini, sebagai pengamalan: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” (QS. An-Nisa: 59).

  1. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Agama Islam itu telah ditetapkan oleh Allah yang memiliki sifat Al Hakim dan Al Alim. Sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Naml: 6). Dan juga firman-Nya: “Dan Dialah Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (QS. Az-Zukhruf: 84). Allah ta’ala juga berfirman: “Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 8). Jika demikian, maka wajib bagi kita sebagai hamba Allah untuk mematuhi aturan yang telah dibuat Allah, baik itu yang bersifat berat ataupun ringan, mudah ataupun sulit, baik disukai ataupun tidak disukai.
  2. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik panutan bagi umatnya. Maka, apapun yang telah ditetapkan dan dicontohkan olehnya, wajib kita ikuti. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21). Juga firman Allah: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)
  3. Para sahabat adalah generasi terbaik umat ini. Jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan sesuatu, maka merekalah orang pertama yang akan melakukannya. Maka, setiap perkara baru dalam agama ini, jika hal tersebut memang pernah dicontohkan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, pastilah para sahabat telah mendahului kita dalam mengamalkannya. Oleh karena itu, muncullah kaidah emas: لَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ “Jika suatu perkara itu baik, tentulah para sahabat telah mendahului kita dalam mengamalkannya”.
  4. Sesungguhnya perintah mentaati pemimpin kaum muslimin adalah bagian dari perintah mentaati Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan kepada pemimpin kaum muslimin tidaklah mutlak, tetapi hanya terbatas pada perkara ma’ruf, dan dalam hal ini termasuk diantaranya adalah penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya. Allah ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59)

Metode Hisab ataukah Hilal?
Untuk menentukan, manakah yang kuat antara metode hisab ataukah hilal dalam penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya, mari kita simak nukilan penjelasan ulama berikut ini, yang kami sarikan dari fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz -rahimahullah-.

  1. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya ketika memulai Ramadhan dan Hari Raya dengan melihat hilal. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته “Berpuasalah karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihat hilal.” (HR. Muslim 1081 dan Nasa’i 2124). Juga sabdanya:  لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه “Janganlah kalian berpuasa sampai melihat hilal, dan janganlah berbuka (berhari raya) sampai melihat hilal.” (HR. Bukhari 1773 dan Muslim 1795). Dan Rasulullah memberikan solusi jika hilal tidak terlihat, mungkin karena hujan atau tertutup mendung, untuk menggenapkannya menjadi 30 hari (HR. Bukhari 1767 dan Muslim 1799).
  2. Sesungguhnya penetapan awal Ramadhan dan Hari Raya dengan melihat hilal telah sesuai dengan tujuan syari’at, yaitu kemudahan bagi setiap orang. Karena hilal dapat dengan mudah disaksikan oleh orang awam. Berbeda dengan hisab, yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang dengan pengetahuan khusus.
  3. Sesungguhnya para ulama telah bersepakat bahwa penetapan bulan baru dalam Islam (bulan-bulan hijriyah) dengan melihat hilal, dan tidak diketahui diantara mereka yang menggunakan hisab falaki dalam hal ini. Para ulama salafus sholih dalam menentukan awal bulan hijriyah hanya menggunakan dua metode; melihat hilal, dan jika tidak memungkinkan maka menggenapkan menjadi 30 hari.

Kesimpulan
Demikianlah uraian dalam hal ini. Kami tidak membahas secara khusus tentang metode hisab falaki, karena kami tidak mempunyai pengetahuan dalam hal ini. Kesimpulannya, bahwa metode hisab falaki tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula para sahabat. Jika Allah menetapkan melalui perantara Rasul-Nya bahwa awal bulan Ramadhan dimulai dengan melihat hilal, maka kewajiban kita adalah mengikutinya. Tidak layak bagi kita untuk membuat cara-cara baru, yang mungkin kita anggap lebih tepat dan akurat dari metode hilal. Mungkin bisa saja secara astronomi perhitungannya tepat, namun hal tersebut telah menyelisihi perintah syari’at untuk cukup melihat hilal. Juga dalam hal ini, pemerintah kita telah sesuai dengan syari’at dengan mengambil metode melihat hilal, maka kewajiban kita adalah mentaatinya, karena hal ini termasuk ketaatan dalam perkara ma’ruf. Allahu ta’ala a’lam bis showab. Mudah-mudahan tulisan singkat ini bermanfaat.
______________________

Bekasi, 29 Sya’ban 1433 H / 19 Juli 2012
Abu Unais Abdurrohman

Rujukan:
1. Al Qur’an Digital
2. Zekr
3. http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menyoal-metode-hisab.html
4. http://www.binbaz.org.sa/mat/8411

Posted on July 19, 2012, in Fatwa dan Ijtihad, Fiqih, Ibadah, Ilmu and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: