Waspada Teman Lama (Nasehat untuk Menapaki Jalan Hidayah)

Wahai saudaraku… Sesungguhnya nikmat terbesar bagi kita, adalah ketika Allah menunjuki kita kepada hidayah sunnah (mengenal manhaj salaf). Karena betapa banyak orang yang berislam, namun jauh dari Islam yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Wahai saudaraku… Ketika Allah telah memberikan kepada kita hidayah yang agung ini, maka kewajiban kita adalah menjaga dan memeliharanya. Betapa banyak manusia yang Allah tunjuki hidayah kepadanya, namun ia enggan menjaganya, sehingga ia kembali kepada jalan kesesatan. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berdoa: “Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 5) di setiap rakaat shalat kita.

Wahai saudaraku… Sesunguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagi kita. Ia tak henti-hentinya menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Diantaranya, ia berusaha menyesatkan kita yang telah mendapat hidayah sunnah, dengan membujuk kembali kepada jalan kesesatan dengan berbagai cara, diantaranya teman bergaul.

Wahai saudaraku… Sesungguhnya teman lama, teman semasa kita masih dalam kejahilan, akan menyeret kita kepada maksiat lama. Oleh karena itu, jauhilah teman-teman lama yang membinasakan. Simaklah nasehat panutan kita shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam memilih teman bergaul berikut ini: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Wahai saudaraku… Sesungguhnya agama kita dipengaruhi dengan siapa kita bergaul. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927)

Wahai saudaraku… Tidakkah engkau melihat, sebagian teman kita, yang dahulunya begitu bersemangat dalam menuntut ilmu kini telah hilang tak terlihat lagi di majelis ilmu. Tidakkah engkau melihat, sebagian teman kita, yang dahulunya semangat dalam mengamalkan amalan sunnah kini (bahkan) jarang terlihat shalat berjamaah di masjid. Tidakkah engkau melihat, sebagian teman kita, yang dahulunya berjilbab lebar dan rapat kini berjilbab kecil dan ketat. Itu semua tak lain karena pengaruh pergaulan teman-teman lamanya.

Wahai saudaraku… Sesungguhnya Allah mengancam dengan ancaman yang tegas bagi siapapun yang telah diberi hidayah, namun ia menyia-nyiakannya. Simaklah firman Allah ta’ala berikut ini: “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, niscaya Kami akan membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan yang dipilihnya, dan kelak Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115). Allah ta’ala juga memerintahkan, “Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.” (QS. al-Baqarah: 152)

Wahai saudaraku… Demikianlah nasehat singkat yang kami nasehatkan kepada diri kami sendiri dan juga antum sekalian. Kita menyadari, bahwa tidak ada yang sempurna diantara kita, tidak ada diantara kita yang bisa luput dari kesalahan. Namun sebaik-baik kita adalah yang senantiasa berusaha memperbaiki dirinya. Manakala terjatuh, ia segera bangun dan memperbaiki diri. Terakhir, marilah senantiasa kita mengucapkan do’a berikut ini:

اللّهُمَّ إِنِّي ظَلَّمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيْرًا وَلا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلا أَنْتَ، فَاغْفِرْلِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku, sementara tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain diri-Mu. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan sayangilah aku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi 8/296). Wa billahi taufiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.
______________________
Pedak, 20 Rajab 1433 H / 10 Juni 2012 M

Disusun oleh:
Abu Unais Abdurrohman

Posted on June 10, 2012, in Ilmu, Mahasiswa, Manhaj, Muamalah, Pekerja and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: