Perkataan Ulama Tentang Pentingnya Seorang Da'i Bersikap Lemah Lembut dalam Dakwahnya

Banyak ulama telah menegaskan pentingnya seorang da’i berhias dengan sikap lemah lembut ketika dia memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Telah kita lewati pendapat sebagian dari mereka dalam pembahasan kedua dari pembahasan ini. Dalam nukilan berikut ini aku akan menyebutkan dengan pertolonganAllah ta’ala pendapat sebagian ulama dalam permasalahan ini.

Dikatakan kepada Al-Imam Ahmad bin Hambal: “Bagaimana seharusnya seseorang memerintahkan yang ma’ruf?” Beliau menjawab: “Dengan lemah lembut dan merendahkan diri.” Kemudian beliau berkata: “Jika mereka memperdengarkan kepadanya perkara yang dia benci, jangan dia marah, sehingga jadilah dia ingin membela diri.”[1]

Al-Imam Sufyan berkata: “Janganlah memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar kecuali orang yang di dalamnya ada tiga perangai; lemah lembut dengan apa yang ia perintahkan dan lemah lembut dengan apa yang ia larang, adil dengan apa yang ia perintahkan dan adil dengan apa yang ia larang, mengilmui apa yang ia perintahkan dan mengilmui apa yang ia larang.”[2]

Asy-Syaikh Abdurrohman bin Nashr Asy-Syaizari ketika membicarakan adab-adab orang yang mengharapkan pahala, mengatakan: “Hendaklah diantara akhlaqnya adalah sifat lemah lembut, halus dalam berbicara, wajah yang berseri-seri, mudah ketika memerintahkan manusia (kepada yang ma’ruf) dan melarang (dari yang mungkar), karena hal itu lebih mengena untuk membuat hati-hati condong dan tercapainya tujuan. Allah ta’ala berkata kepada NabiNya: “Maka disebabkan rohmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159) Karena berlebihan dalam melarang kadang malah membangkitkan kemaksiatan, dan kasar dalam memberikan nasehat membuat pendengaran-pendengaran lari darinya.”[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Maka semestinya (bagi da’i) untuk mempunyai tiga hal; ilmu, sikap lemah lembut, dan sabar. Ilmu sebelum memerintahkan dan melarang, lemah lembut ketika memerintahkan dan melarang, dan sabar setelah melakukannya. Dan setiap dari tiga hal ini mesti menemaninya dalam keadaan-keadaaan ini.”[4]

Al-Imam Ahmad bin Muhammad Al-Maqdisi berkata: “Sebagian salaf berkata; Tidak memerintahkan kepada yang ma’ruf kecuali orang yang lemah lembut dengan apa yang ia perintahkan, lemah lebut dengan apa yang ia larang, sabar dalam apa yang ia perintahkan, sabar dalam apa yang ia larang, dan faqih (berilmu) tentang apa yang ia perintahkan , dan faqih dengan apa yang ia larang.”[5]
______________________

Dinukil dari Buku: Min Shifaati Ad-Daa’iyyah Al-Liin wa Ar-Rifqu, karya Dr. Fadhl Ilahi. Edisi Indonesia: Lemah Lembut dalam Dakwah, penerbit Pustaka Al-Haura Yogyakarta.

Catatan kaki:
[1] Lihat Kitab Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘Anil Munkar, karya Abu Bakar Kholal hal. 50
[2] Idem, hal. 46
[3] Nihayah Ar-Rutbah fii Tholab Al-Hisbah hal. 9. Dan yang hampir semisal dengan itu dikatakan Ibnul Ikhwah dalam Kitabnya Ma’alim Al-Qurbah fii Ahkam Al-Hisbah hal. 60, dan Ibnu Bassam Al-Muhtasib dalam Kitabnya Nihayah Ar-Rutbah fii Tholab Al-Hisbah hal. 13
[4] Kitab Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘Anil Munkar, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal. 30
[5] Muhktashor Minhaj Al-Qoshidin hal. 138

Posted on June 6, 2012, in Akhlaq dan Adab, Fadhilah, Ilmu, Manhaj, Muamalah, Perhiasan, Ulama and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: