Hadits-Hadits yang Mengatur Muamalah Istri Terhadap Suami

Setiap muslim pasti mendambakan istri yang shalihah, karena ia adalah penyejuk pandangan bagi suaminya. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita (istri) shalihah.” [HR. Muslim no. 1467]. Namun bagaimana jadinya, jika istri yang didambakan menjadi penyejuk pandangan bagi suaminya, ternyata tidak sesuai harapan? Dalam keadaan demikian, hendaklah suami bersabar, dan senantiasa menasehati sang istri, karena sifat dasar wanita adalah bengkok laksana tulang rusuk. Ia harus diluruskan secara perlahan, dan berulang-ulang. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok) dan ia (seorang wanita) tidak akan lurus bagimu di atas satu jalan.” [HR Muslim II/1091 no 1468]. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata: “Maknanya bahwa para wanita diciptakan asalnya adalah diciptakan dari sesuatu yang bengkok… ‘Janganlah diingkari kebengkokan seorang wanita, atau isyarat bahwa wanita tidak bisa diluruskan sebagaimana tulang rusuk tidak bisa diluruskan.’” [Fathul Bari 6/368, Darul Ma’rifah, Beirut, Asy-Syamilah].

Wanita juga sering mengedepankan perasaan daripada akal sehat. Seringkali ketika diingatkan dengan suatu ayat atau hadits, ia segera ruju’ kepada kebenaran. Namun, tidak berselang lama, ia akan kembali mengulang kesalahannya. Demikianlah kenapa wanita disifati sebagai sesuatu yang bengkok. Bismillah, berikut ini kami nukilkan hadits-hadits yang mengatur muamalah istri kepada suami. Mudah-mudahan dapat membantu meluruskan para istri.

Hadits 1
“Maukah aku kabarkan kepada kalian, tentang wanita-wanita kalian penduduk surga? Yaitu wanita yang penyayang (kepada suaminya), yang subur, yang selalu memberikan manfaat kepada suaminya, yang jika suaminya marah maka ia pun mendatangi suaminya lantas meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya berkata, ‘Aku tidak bisa tenteram tidur hingga engkau ridho kepadaku.'” [Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Sahihah no. 287]

Hadits 2
“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, ‘Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu, hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami’”. [HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Ar-Rodho’ (1174), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (2014). Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Adab Az-Zifaf hal. 212]

Hadits 3
“Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, seorang istri tidak akan memenuhi hak Rabb-nya sampai ia mau memenuhi hak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (untuk berjimak), sedang ia berada dalam keadaan memasak, maka ia (istri) tidak boleh menolaknya”. [HR. Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (1853). Hadits ini dikuatkan oleh Al-Albani dalam Adab Az-Zifaf hal. 211]

Hadits 4
“Jika seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan, dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi”. [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Bad’il Kholqi (3237), dan Muslim dalam Kitab An-Nikah (1436)]

Hadits 5
“Ada tiga orang yang sholatnya tidak melampaui telinganya: Hamba yang lari sampai ia mau kembali, wanita yang bermalam sedang suaminya marah kepadanya, dan seorang pemimpin kaum sedang mereka benci kepadanya”. [HR. At-Tirmidzi (360). Hadits ini dihasankan oleh Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykah (1122)]

Hadits 6
“Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya”. [HR. At-Tirmidzi dalam As-Sunan (1159), dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ (1998)]

Hadits 7
“Saya mendatangi Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk suatu keperluan. Beliau bertanya: ‘siapakah ini? Apakah sudah bersuami?’ ‘Sudah!’, jawabku. ‘Bagaimana hubungan engkau dengannya?’, tanya Rasulullah. ‘Saya selalu mentaatinya sebatas kemampuanku’. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Perhatikanlah selalu bagaimana hubunganmu denganya, sebab suamimu adalah surgamu, dan nerakamu’”. [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubro (8963), Ahmad dalam Al-Musnad (4/341/no. 19025), dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (2612), dan Adab Az-Zifaf (hal. 213)]

Hadits 8
“Telah diperlihatkan neraka kepadaku, kulihat mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka telah kufur (ingkar)!” Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?” Rasullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab, “Tidak, mereka mengingkari (kebaikan) suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, “Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu”. [HR. Bukhari dalam Shahihnya (29), dan Muslim dalam Shahihnya (907)]

Hadits 9
“Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya”. [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubro (9135 & 9136), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (2349), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2771), dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (289)]

Hadits 10
“Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.” [HR. Abu Dawud no. 1308]

Demikianlah, sepuluh hadits yang mengatur muamalah seorang istri kepada suaminya. Mudah-mudahan dapat menjadi mauidhoh hasanah bagi kita bersama. Wa billahi taufiq, wa sallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Jogjakarta, 10 Rajab 1433 H / 31 Mei 2012

Abu Unais Abdurrohman

Posted on May 31, 2012, in Akhlaq dan Adab, Ibadah, Keluarga, Muamalah, Wanita and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: