Hukum Shalat Rawatib di Hari Jum'at

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh. Telah tetap dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa shalat 12 rakaat maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga”[1], kemudian dijelaskan dalam riwayat Tirmidzi rahimahullah, berkata: “4 rakaat sebelum dhuhur, 2 rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum subuh”[2], dan inilah urutan sebagaimana diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa mengerjakannya maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga, yaitu shalat 4 rakaat sebelum dhuhur dengan 2 salam, 2 rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat setelah Isya, dan 2 rakaat sebelum subuh. Itulah rakaat-rakaat yang disyari’atkan oleh Allah, dan juga urutannya sebagaimana urutan dari sebuah kebaikan yang besar.

Dan sesungguhnya tidak ada shalat sunnah sebelum shalat Jum’at, karena hal ini tidak ada sunnahnya dari Rasulullah shalallah ‘alaihi wa sallam. Dan yang disyari’atkan adalah seseorang yang memasuki masjid maka hendaknya menunaikan 2 rakaat sunnah tahiyatul masjid, kemudian ia melakukan amal apapun yang mengandung maslahat -yaitu sebelum naiknya imam ke mimbar-. Jika ia berkehendak dapat melakukan shalat sunnah sekehendaknya[3], tanpa menetapka bilangan tertentu, atau jika berkehendak untuk duduk setelah melakukan shalat tahiyatul masjid, kemudian berdzikir dan bersholawat kepada Nabi, atau membaca apa saja yang mudah dari Al Qur’an, maka lakukanlah hal tersebut.

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa meninggalkan shalat sebelum shalat Jum’at adalah lebih utama, agar orang-orang bodoh tidak mengira bahwa hal tersebut termasuk shalat sunnah rawatib atau bahwasanya hal tersebut wajib, maka tinggalkanlah hal tersebut sampai orang awam tahu bahwa itu bukan sesuatu yang sunnah ataupun wajib, terlebih jika manusia senantiasa melakukan hal tersebut, maka selayaknya terkadang engkau meninggalkan hal tersebut. Dan bahkan Ibnul Qayyim mengingkari adanya shalat sunnah rawatib sebelum shalat Jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya Zaadul Ma’aad. Lantas bagaimana meraih rumah di surga pada hari Jum’at?[4]

Jawaban: Ada pertanyaan serupa, dan telah dijawab oleh Doktor Bandar bin Nafi’ Al-‘Abdaly (Anggota Lembaga Pengajaran di Universitas Qasim, Saudi Arabia). Jawabannya adalah sebagai berikut: Segala puji bagi Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam serta keberkahan atas nabi kita Muhammad dan juga para sahabatnya. Amma ba’du. Shalat Jum’at tidak mempunyai sunnah rawatib qabliyyah akan tetapi mempunyai sunnah rawatib ba’diyyah yaitu 4 rakaat: hal ini sebagaimana telah tetap dalam Shahih Muslim (881) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika kalian telah selesai shalat Jum’at maka shalatlah 4 rakaat setelahnya.” Dan juga dalam Shahihain dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Bahwasanya beliau tidak melakukan shalat sunnah setelah shalat Jum’at sampai beliau berpaling dan shalat 2 rakaat di rumahnya.”[5] Dan sebagian ulama telah menyatukan dua hadits ini, bahwasanya jika dilakukan di masjid maka 4 rakaat, dan jika dilakukan di rumah maka 2 rakaat, dan ini termasuk perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Dan berkata yang lainnya: bahkan shalat 6 rakaat, menyatukan 2 hadits ini (yaitu 4 rakaat di masjid dan 2 rakaat di rumah) dan ini riwayat dari Imam Ahmad dan juga sebagian salaf seperti Sufyan Ats-Tsauri, Atha’, dan Mujahid. Dan berkata yang lainnya: bahkan cukup shalat 4 rakaat secara mutlak, baik itu dilakukan di masjid ataupun di rumah, karena inilah yang terang dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan cara melakukannya dengan 2 rakaat salam, dan barangsiapa melakukannya demikian tidak bertentangan dengan perkataan ini, karena tidak keluar dari jumlah bilangannya. Dan menurutku pendapat inilah yang benar, bahwa shalat rawatib setelah shalat Jum’at adalah 4 rakaat secara mutlak, maka setiap orang yang shalat Jum’at, maka kemudian shalat setelahnya 4 rakaat baik dalam keadaan mukim ataupun safar, baik shalatnya di masjid ataupun di rumah, dan oleh karena itu hari Jum’at masuk dalam pengecualian dari keumuman hadits: “Dan tidaklah seorang hamba muslim yang shalat sunnah 12 rakaat setiap hari kecuali Allah akan membangunkan rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)[6]. Wallahu a’lam
______________________

Sumber: Muntada Ad-Dirosat Al-Fiqhiyyah, Multaqa’ Ahlul Hadits.
Diterjemahkan oleh Abu Unais dengan sedikit perubahan, teks asli lihat di ahlalhadeeth.com.

Catatan kaki:
[1] HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794
[2] HR. Muslim no. 728, Tirmidzi 414
[3] Yaitu shalat sunnah mutlak dengan 2 rakaat salam.
[4] Maksudnya adalah bagaimana meraih 12 rakaat di hari Jum’at, sedangkan sunnah rawatib sebelum dhuhur tidak dijumpai di hari tersebut.
[5] HR. Bukhari no. 937, Muslim no.882
[6] Kesimpulan akhir yang dipahami penerjemah; meskipun hari Jum’at, bilangan 12 rakaat tidak tercapai (hanya tercapai 10 rakaat, yaitu: 2 rakaat sebelum subuh, 4 rakaat setelah dhuhur/shalat Jum’at, 2 rakaat setelah Maghrib, dan 2 rakaat setelah Isya), namun jika hal tersebut dilakukan maka tetap mendapatkan keutamaan rumah di surga, karena bilangan rakaat ini datangnya dari Allah, dan bukan sebab karena pelakunya meninggalkannya. Wallahu a’lam bis showab.

Posted on May 18, 2012, in Fatwa dan Ijtihad, Fiqih, Ibadah, Sunnah and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: